Liputan KOKE Di Kompas

JAKARTA, KOMPAS.com – Kopi begitu dekat dengan kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia. Banyak orang mengawali hari dengan secangkir kopi, mengambil semangatnya, sekaligus menikmati rasanya. Kopi bahkan sudah menjadi gaya hidup. Warung kopi, gerai, kafe, atau apapun namanya bermunculan menyajikan rasa dan suasana. Hal ini memberi berkah pada para petani kopi nusantara.

Walau kebanyakan orang menikmati kopi dengan meminumnya, tapi ada juga yang karena alasan tertentu hanya bisa mencium aromanya. Kenyataan itu rupanya memberi gagasan pada Yudhi Prasetyo, pemuda berdarah Palembang yang lahir 11 Oktober 1991 untuk membuat produk kreatif. Sarjana Ilmu Komunikasi ini mengubah paradigma berpikir, bahwa kopi bisa dinikmati dengan cara yang berbeda, tanpa harus diminum. Ide ini berkembang setelah Yudhi melihat kegelisahan beberapa temannya yang tidak bisa menikmati kopi dengan cara diminum, tapi begitu menikmati aromanya. Setelah melalui riset dan beberapa kali percobaan, Yudhi menyulap biji kopi menjadi produk aksesoris gelang, yang lalu dikembangkan menjadi anting, kalung, tasbih, hingga ke produk pewangi kopi. Produk itu dikemas dengan brand Kopi Kreatif Indonesia (KoKe).

Berawal dari rumahnya di sekitar Manisrenggo, Prambanan, Jawa Tengah, Yudhi mengerahkan beberapa ibu pengrajin untuk membuat produk gelang dan kalung yang terbuat dari biji-biji kopi. Biji-biji kopi Arabica itu didapatnya dari sisa panen petani lokal dan stok yang rusak akibat penyimpanan, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi lagi. Nah, biji-biji kopi ini kemudian diseleksi lagi untuk melihat tingkat kualitasnya. “Dengan membeli biji kopi ‘rusak’, yang sudah tak layak dikonsumsi, kami berharap bisa membantu petani,” ujar Yudhi. Setelah melalui proses roasting, biji-biji kopi yang utuh dan memiliki kualitas lebih bagus dijadikan aksesoris, sedangkan biji-biji kopi yang bentuknya tidak utuh, pecah, atau kurang proporsional diproses untuk produk pewangi kopi.

Gelang-gelang dan kalung itu akan menebarkan keharuman biji kopi yang telah dipanggang bagi pemakainya. Begitu juga dengan produk pengharum yang membuat mobil dan ruangan beraroma kopi. “Kami memperhatikan tingkat pengeringan dan pemanasan secara khusus, juga kekuatan biji untuk aksesoris, agar aroma kopinya tahan lama,” kata Yudhi. Usaha yang dimulai sejak tahun 2015 itu kini sudah menjalin bekerjasama dengan 10 – 15 pengrajin dan penjahit untuk memproduksi 5.000 – 7.000 produk per bulan. Saat ini, Yudhi dan tim-nya sudah memproses sekitar 100kg biji kopi per bulan untuk memenuhi permintaan pasar untuk produknya. Produk-produk KoKe dijual dengan kisaran harga Rp 35.000 – Rp 150.000 melalui jaringan online strore dan offline store, termasuk toko oleh-oleh atau suvenir dan bandara Angkasa Pura.

Saat ini, KoKe sedang menjalankan kampanye dengan tema “Satu Untuk Seratus”, yang mengajak konsumen menyumbangkan 100 gram benih kopi, tiap satu post di Instagram yang memvisualisasikan produk KoKe dengan memberi tagar #temanKOKE dan #sharetocare. Kampanye ini dilakukan untuk mendukung petani kopi di daerah bukit Gimbo, Empat Lawang, Sumatera Selatan. Karena menurut Yudhi, dengan para petani, KoKe berteman dan berbagi kebahagiaan. “Barangkali Tuhan menciptakan kopi supaya kita semua bisa berteman. Pada kopi, kita temukan segitiga harmoni antara alam, manusia, dan budaya,” katanya.

Sumber : Kompas

 

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat